sri neni
Rabu, 04 Januari 2012
Keluarga
Arti Sebuah Keluarga
Dikisahkan disebuah kota yang ramai, hiduplah sepasang suami istri bersama anak-anaknya yang masih kecil. Mereka hidup bahagia dengan melewati hari-hari dengan sederhana. Dengan bekal sebagai seorang pedagang manisan, sang suami giat mencari uang demi anak dan istri tercinta.
Tak terasa waktu demi waktu telah berlalu, dan anak-anaknya pun telah kian dewasa. Si sulung yang telah menamatkan pendidikan tingginya, telah berhasil mendapatkan kerjaan yang layak. Dengan giat setiap hari dia bekerja, dan dia pun berhasil mendapatkan posisi yang baik di perusahaan, karena ketekunannya.
Tanpa disadari, waktu dan kehidupan si sulung lama kelamaan hanya dicurahkannya pada kantor dan temen-temen sekerjanya. Dia pun mulai kehilangan waktu untuk sekedar berbicara dan berbagi dengan keluarganya. Setiap pagi jam 6 pagi dengan cepat dia berangkat kerja, dan sampai jam 12 malem baru lah dia menginjakkan kakinya didepan pintu rumahnya, hanya sekedar untuk beristirahat, demikian seterusnya.
Orang tua dan adik-adiknya hanya bisa mendukungnya tanpa pernah mengeluh sedikit pun, walaupun terkadang mereka juga merindukan untuk dapat berkumpul bersama si sulung barang sejenak, sekedar untuk berbagi cerita.
Pada suatu pagi sang ayah yang telah lama menderita penyakit gula, mendadak pingsan dan dalam keadaan kritis. Sang istri yang begitu panik segera melarikannya kerumah sakit untuk dirawat. Anak-anaknya yang lain pun segera menjenguk ayahnya yang kritis dirumah sakit, hanya si sulung yang tidak tampak.
Adik-adiknya berusaha menghubunginya sang kakak dikantornya, namun sang kakak hanya mengatakan akan segera menjenguk setelah pekerjaannya selesai dikantor.
Semakin malam masa kritis sang ayah pun tidak membaik, dan akhirnya sang ayah pun meninggal dunia. Sang istri dan anak-anaknya pun bersedih, namun si sulung pun tidak tampak diantara mereka. Dan tak lama dari waktu sang ayah meninggal baru lah si sulung menjenguk ayahnya, namun dia telah terlambat, karena sang ayah telah meninggalkannya untuk selamanya.
Hanya penyesalan lah yang menyelimuti perasaan si sulung, karena kesibukkannya dikantor mengalahkan arti sebuah keluarga dalam hatinya.
~ Pepatah Tiongkok lama mengatakan keluarga adalah mutiara. Begitu berharganya nilai sebuah keluarga sehingga dia disamakan dengan mutiara. Karena dari sebuah keluargalah kita lahir, tumbuh dan dewasa. Sehingga begitu dalam makna keluarga yang harus kita patrikan didalam hati kita kelak dan selamanya. Kadangkala kita dengan alasan kerja mengabaikan keluarga kita, suami, istri, orang tua ataupun anak-anak kita. Namun kita lupa bahwa sesungguh kebahagiaan sejati bukan hanya diukur dari materi namun dari kehangatan sejati yang kita peroleh dari saling berbagi dalam kebersamaan sebuah keluarga. Kita boleh bersosialisasi dengan orang diluar keluarga kita namun alangkah bijaknya jika kita juga bisa meluangkan sedikit waktu kita yang berharga untuk memberikan curah kasih pada keluarga kita~
pacar
Pacaran Beda Agama
Pacaran
Salah satu fase penting dalam sebuah relasi antar laki-laki dengan perempuan, di masa remaja khususnya, adalah fase pacaran. Mengapa penting? Sebab dalam fase ini orang masuk dalam proses penjajagan. Bukan untuk melihat apakah cocok atau tidak. Atau yang lebih sering dipakai, apakan kita jodoh atau bukan dengan pasangan kita.
Dalam pemahaman Kristiani, kita tidak pernah mengenal jodoh. Tuhan tidak menjodohkan orang. Yang kita hayati adalah Tuhan mempersatukan orang dalam ikatan pernikahan. Karena itu, pacaran adalah upaya penjajagan untuk melihat apakah kita mungkin untuk menjalani hidup berumah tangga dengan orang pilihan kita.
Melalui fase pacaran ini kita berupaya untuk mengenal lebih dekat calon pasangan. Latar belakang keluarga, sifat dan kebiasaan, kekuatan dan kelemahan, dan masih banyak lagi. Semua ini harus dilakukan dengan baik dan benar. Sebab pernikahan — pada gilirannya — adalah proses yang mesti dilakukan dengan sangat serius. Keseriusan ini mesti kita mulai sejak dini, dan fase pacaran adalah langka awal sebelum kita masuk dalam ikatan pernikahan.
Dengan demikian, kita memang mesti menyadari bahwa yang dimaksud dengan pacaran dalam hal ini bukan sekadar dalam tataran cinta monyet. Fase yang menempatkan relasi pacaran itu sekadar dalam situasi lebih dekat daripada pertemanan biasa. Yang muncul dalam cinta monyet adalah keinginan untuk lebih dekat dengan seseorang, merasa lebih spesial, bisa berbuat lebih jauh yang umumnya ditandai dengan kesenangan berduaan saja. Umurnya tak pernah lebih dari seumur jagung. Belum ditandai dengan kedewasaan berpikir dan bersikap.
Sedangkan yang kita coba soroti saat ini adalah fase pacaran yang serius. Fase yang menempatkan pacaran sebagai salah satu langkah untuk memasuki jenjang pernikahan atau berkeluarga. Sehingga pacaran memang memerlukan pemikiran yang serius.
Teens, tentu saja kamu tak perlu mengernyitkan dahi dan bersiap buat mengajukan protes, dengan mengatakan bahwa kalian masih jauh dari proses pernikahan. Ya, betul. Apa yang dipaparkan di sini adalah sebuah pemikiran awal, sehingga kalian punya sebuah pedoman. Bahwa saat ini kalian mungkin masih di fase cinta monyet, ya nggak apa-apa. Tapi, ketika kalian merasa bahwa relasi kalian semakin serius, makan ingat dab camkanlah, bahwa ada hal-hal yang mesti kalian pertimbangkan dengan cermat.
Peran Agama
Salah satu hal yang mesti kita cermati dengan serius adalah soal agama. Apalagi di Indonesia, yang masyarakatnya menempatkan agama sebagai salah satu pilar penting dalam membangun hidup bermasyarakat. Maka agama tidak pernah bisa disepelekan. Ingatlah beberapa konflik yang muncul di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh agama. Dan ketika konflik ini meletus, maka akibat yang muncul sangat besar. Bukan itu saja, karena konflik yang disebabkan agama, relasi keluarga juga bisa hancur berantakan.
Nah, salah satu tantangan besar dalam hal ini adalah ketika kita jatuh cinta pada orang yang berbeda agama. Umumnya orang akan membela diri dengan mengatakan bahwa cinta itu tidak punya agama. Betul. Cinta itu tidak punya agama, orang tua, saudara, harta atau apa pun juga. Cinta ya cinta, titik. Pembelaan itu masih diikuti dengan pernyataan lain, seperti cinta itu buta, atau kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta misalnya. Dengan mengatakan hal itu orang mau menyampaikan bahwa ia tak berdaya ketika berhadapan dengan cinta. Apalagi kalau yang mengalami hal ini kita sebagai orang Kristen. Bukan tidak mungkin kita akan mengutip ayat Alkitab untuk menegaskan dan mendukung sikap kita. Misalnya kita mengutip Kidung Agung 8:6, karena cinta kuat seperti maut. Begitu kuatnya sampai-sampai kita tak mampu lagi berpikir dengan jernih. Kalau sudah begini, makan kita akan melakukan apa saja demi nama cinta. Semua prinsip bisa kita langgar. Yang penting keinginan kita terlaksana. Teens, yang seperti itu tidak boleh terjadi. Cinta memang buta. Tapi jangan pernah dibutakan oleh cinta. Tuhan sudah memberikan akal budi kepada setiap manusia. Harus digunakan secara optimal.
Dalam berpacaran, konflik menjadi bagian yang tak mungkin dihilangkan. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan setiap konflik yang ada. Beda agama bisa menjadi salah satu sumber konflik dalam pacaran. Padahal peran agama dalam pacaran tidak boleh menjadi salah satu sumber konflik. Sebaliknya, agama mestinya membuat proses pacaran kita berjalan dengan baik.
Agama mesti berperan sebagai salah satu perekat bukan pemecah. Namun, kita mesti realistis bahwa setiap agama memiliki perbedaan dengan agama lain. Mempersatukan setiap perbedaan bukan saja sulit, tapi hampir mustahil. Karena itu berpacaran beda agama mesti dihindari. Terlalu besar pertaruhannya. agaimana kita menghindari pacaran beda agama?
Sederhana saja. Ada 2 hal yang bisa kita lakukan. Satu, perbanyak pergaulan dengan teman-teman yang seagama. Dua, bersikap kritis dengan perasaan kita. Pada saat kalian merasa jatuh cinta dengan teman kalian yang berbeda agama, kalian mesti berpikir lebih kritis atas perasaan tersebut. Dan sejak awal, kalian mesti berani untuk berkata TIDAK atas perasaan itu.
Sudah Terlanjur
Bagaimana kalau sudah terlanjur? Pertanyaan ini sangat mungkin muncul. Mungkin kalian merasa seolah semua buntu. Tidak. Seperti sudah dipaparkan di atas, pacaran adalah salah satu fase saja yang mesti kita lalui. Dalam pacaran belum ada ikatan yang formal. Karena itu, masih mungkin buat kita perbaiki.
Jadi buat kalian yang sudah terlanjur, kami menganjurkan untuk mengakhiri relasi pacaran kalian, dan melanjutkannya dalam hubungan pertemanan biasa. Tak perlu merasa kiamat dan putus asa berlebihan. Pikirkanlah masa depan kalian.
Tentu saja ketika kalian mau mengakhiri relasi tersebut, mesti dibicarakan dengan tenang dan hati-hati. Bukan dengan buru-buru apalagi disertai emosi. Semua ini untuk menghindari kemungkinan munculnya salah paham.
Akhirnya
Nah Teens, semoga kalian bisa melihat betapa pentingnya pacaran yang baik. Salah satu cirinya adalah ketika kalian tidak berpacaran dengan orang yang berbeda agama. Ini memang tidak mudah, namun mesti kalian jalani.
Karena itu, akan lebih baik juga bila kalian tidak buru-buru buat pacaran. Tenang saja, tak perlu terpengaruh oleh mereka yang sudah berpacaran, tak perlu merasa malu bila belum berpacaran, tak perlu juga merasa tak laku. Ingatlah bahwa pacaran adalah salah satu fase, jadi pasti kalian akan melewatinya. Jika kalian memasuki masa pacaran pada waktu yang tepat, makan kalian akan dapat mempertimbangkan semua hal penting dengan baik.
Kalau hal itu bisa kalian lakukan, maka kami percaya proses pacaran kalian juga akan berjalan dengan baik. Kalaupun muncul konflik, maka itu bukan pada hal-hal yang mendasar, seperti agama, namun lebih pada upaya untuk mencari keselarasan. Dan dengan proses tersebut, kami juga percaya kalian pada akhirnya bisa menjadikan pacaran sebagai salah satu persiapan untuk masuk dalam ikatan yang lebih kokoh.
Last but not least, satu jargon di masa lalu yang kami kira masih relevan sampai sekarang : sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Selanjutnya, terserah anda
Pacaran
Salah satu fase penting dalam sebuah relasi antar laki-laki dengan perempuan, di masa remaja khususnya, adalah fase pacaran. Mengapa penting? Sebab dalam fase ini orang masuk dalam proses penjajagan. Bukan untuk melihat apakah cocok atau tidak. Atau yang lebih sering dipakai, apakan kita jodoh atau bukan dengan pasangan kita.
Dalam pemahaman Kristiani, kita tidak pernah mengenal jodoh. Tuhan tidak menjodohkan orang. Yang kita hayati adalah Tuhan mempersatukan orang dalam ikatan pernikahan. Karena itu, pacaran adalah upaya penjajagan untuk melihat apakah kita mungkin untuk menjalani hidup berumah tangga dengan orang pilihan kita.
Melalui fase pacaran ini kita berupaya untuk mengenal lebih dekat calon pasangan. Latar belakang keluarga, sifat dan kebiasaan, kekuatan dan kelemahan, dan masih banyak lagi. Semua ini harus dilakukan dengan baik dan benar. Sebab pernikahan — pada gilirannya — adalah proses yang mesti dilakukan dengan sangat serius. Keseriusan ini mesti kita mulai sejak dini, dan fase pacaran adalah langka awal sebelum kita masuk dalam ikatan pernikahan.
Dengan demikian, kita memang mesti menyadari bahwa yang dimaksud dengan pacaran dalam hal ini bukan sekadar dalam tataran cinta monyet. Fase yang menempatkan relasi pacaran itu sekadar dalam situasi lebih dekat daripada pertemanan biasa. Yang muncul dalam cinta monyet adalah keinginan untuk lebih dekat dengan seseorang, merasa lebih spesial, bisa berbuat lebih jauh yang umumnya ditandai dengan kesenangan berduaan saja. Umurnya tak pernah lebih dari seumur jagung. Belum ditandai dengan kedewasaan berpikir dan bersikap.
Sedangkan yang kita coba soroti saat ini adalah fase pacaran yang serius. Fase yang menempatkan pacaran sebagai salah satu langkah untuk memasuki jenjang pernikahan atau berkeluarga. Sehingga pacaran memang memerlukan pemikiran yang serius.
Teens, tentu saja kamu tak perlu mengernyitkan dahi dan bersiap buat mengajukan protes, dengan mengatakan bahwa kalian masih jauh dari proses pernikahan. Ya, betul. Apa yang dipaparkan di sini adalah sebuah pemikiran awal, sehingga kalian punya sebuah pedoman. Bahwa saat ini kalian mungkin masih di fase cinta monyet, ya nggak apa-apa. Tapi, ketika kalian merasa bahwa relasi kalian semakin serius, makan ingat dab camkanlah, bahwa ada hal-hal yang mesti kalian pertimbangkan dengan cermat.
Peran Agama
Salah satu hal yang mesti kita cermati dengan serius adalah soal agama. Apalagi di Indonesia, yang masyarakatnya menempatkan agama sebagai salah satu pilar penting dalam membangun hidup bermasyarakat. Maka agama tidak pernah bisa disepelekan. Ingatlah beberapa konflik yang muncul di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh agama. Dan ketika konflik ini meletus, maka akibat yang muncul sangat besar. Bukan itu saja, karena konflik yang disebabkan agama, relasi keluarga juga bisa hancur berantakan.
Nah, salah satu tantangan besar dalam hal ini adalah ketika kita jatuh cinta pada orang yang berbeda agama. Umumnya orang akan membela diri dengan mengatakan bahwa cinta itu tidak punya agama. Betul. Cinta itu tidak punya agama, orang tua, saudara, harta atau apa pun juga. Cinta ya cinta, titik. Pembelaan itu masih diikuti dengan pernyataan lain, seperti cinta itu buta, atau kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta misalnya. Dengan mengatakan hal itu orang mau menyampaikan bahwa ia tak berdaya ketika berhadapan dengan cinta. Apalagi kalau yang mengalami hal ini kita sebagai orang Kristen. Bukan tidak mungkin kita akan mengutip ayat Alkitab untuk menegaskan dan mendukung sikap kita. Misalnya kita mengutip Kidung Agung 8:6, karena cinta kuat seperti maut. Begitu kuatnya sampai-sampai kita tak mampu lagi berpikir dengan jernih. Kalau sudah begini, makan kita akan melakukan apa saja demi nama cinta. Semua prinsip bisa kita langgar. Yang penting keinginan kita terlaksana. Teens, yang seperti itu tidak boleh terjadi. Cinta memang buta. Tapi jangan pernah dibutakan oleh cinta. Tuhan sudah memberikan akal budi kepada setiap manusia. Harus digunakan secara optimal.
Dalam berpacaran, konflik menjadi bagian yang tak mungkin dihilangkan. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan setiap konflik yang ada. Beda agama bisa menjadi salah satu sumber konflik dalam pacaran. Padahal peran agama dalam pacaran tidak boleh menjadi salah satu sumber konflik. Sebaliknya, agama mestinya membuat proses pacaran kita berjalan dengan baik.
Agama mesti berperan sebagai salah satu perekat bukan pemecah. Namun, kita mesti realistis bahwa setiap agama memiliki perbedaan dengan agama lain. Mempersatukan setiap perbedaan bukan saja sulit, tapi hampir mustahil. Karena itu berpacaran beda agama mesti dihindari. Terlalu besar pertaruhannya. agaimana kita menghindari pacaran beda agama?
Sederhana saja. Ada 2 hal yang bisa kita lakukan. Satu, perbanyak pergaulan dengan teman-teman yang seagama. Dua, bersikap kritis dengan perasaan kita. Pada saat kalian merasa jatuh cinta dengan teman kalian yang berbeda agama, kalian mesti berpikir lebih kritis atas perasaan tersebut. Dan sejak awal, kalian mesti berani untuk berkata TIDAK atas perasaan itu.
Sudah Terlanjur
Bagaimana kalau sudah terlanjur? Pertanyaan ini sangat mungkin muncul. Mungkin kalian merasa seolah semua buntu. Tidak. Seperti sudah dipaparkan di atas, pacaran adalah salah satu fase saja yang mesti kita lalui. Dalam pacaran belum ada ikatan yang formal. Karena itu, masih mungkin buat kita perbaiki.
Jadi buat kalian yang sudah terlanjur, kami menganjurkan untuk mengakhiri relasi pacaran kalian, dan melanjutkannya dalam hubungan pertemanan biasa. Tak perlu merasa kiamat dan putus asa berlebihan. Pikirkanlah masa depan kalian.
Tentu saja ketika kalian mau mengakhiri relasi tersebut, mesti dibicarakan dengan tenang dan hati-hati. Bukan dengan buru-buru apalagi disertai emosi. Semua ini untuk menghindari kemungkinan munculnya salah paham.
Akhirnya
Nah Teens, semoga kalian bisa melihat betapa pentingnya pacaran yang baik. Salah satu cirinya adalah ketika kalian tidak berpacaran dengan orang yang berbeda agama. Ini memang tidak mudah, namun mesti kalian jalani.
Karena itu, akan lebih baik juga bila kalian tidak buru-buru buat pacaran. Tenang saja, tak perlu terpengaruh oleh mereka yang sudah berpacaran, tak perlu merasa malu bila belum berpacaran, tak perlu juga merasa tak laku. Ingatlah bahwa pacaran adalah salah satu fase, jadi pasti kalian akan melewatinya. Jika kalian memasuki masa pacaran pada waktu yang tepat, makan kalian akan dapat mempertimbangkan semua hal penting dengan baik.
Kalau hal itu bisa kalian lakukan, maka kami percaya proses pacaran kalian juga akan berjalan dengan baik. Kalaupun muncul konflik, maka itu bukan pada hal-hal yang mendasar, seperti agama, namun lebih pada upaya untuk mencari keselarasan. Dan dengan proses tersebut, kami juga percaya kalian pada akhirnya bisa menjadikan pacaran sebagai salah satu persiapan untuk masuk dalam ikatan yang lebih kokoh.
Last but not least, satu jargon di masa lalu yang kami kira masih relevan sampai sekarang : sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Selanjutnya, terserah anda
Teman
Mungkin saya adalah seseorang yang sangat "bergantung" dengan teman, dalam arti saya akan merasa sedih bila tidak memiliki teman atau hanya sedikit memiliki teman. Sebaliknya saya akan merasa bahagia bila dimanapun saya berada saya senantiasa dapat menemukan teman2 saya.
Demi memiliki teman yang banyak, sempat saya berprinsip bahwa saya HARUS DAPAT berteman dengan siapapun juga. Sehingga kadang saya harus "memaksa" diri agar orang merasa nyaman untuk berteman dengan saya, padahal saya sendiri merasa sebaliknya.
Dengan berjalannya waktu, saya belajar bahwa mencari teman seperti juga mencari suami adalah "jodoh2an". Tali silaturahmi tetap saya ulurkan, tetapi tentu saja saya tidak bisa memaksa semua orang untuk merasa nyaman dengan saya dan sebaliknya, diri saya sendiripun tidak bisa dipaksakan untuk merasa nyaman dengan semua orang.
Artikel di bawah ini saya ambil dari milis yang saya ikuti, mengingatkan saya bahwa untuk mendapatkan teman, kita harus belajar menjadikan diri kita terlebih dahulu teman bagi orang lain.
..........Meski pun hampir semua dari kita menyadari bahwa kita perlu orang lain toh tetap saja terkadang kita bertingkah sebaliknya. Tampaknya benar bahwa setiap manusia cenderung egois, lebih tertarik kepada dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Setiap orang ingin merasa dirinya penting, berharga dan punya nilai. Inilah yang membuat kita
terkadang susah membina sebuah persahabatan. Tidak berlebihan kiranya kalau mentor saya, Pak Andrie Wongso pernah berpesan, "Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah merendah di hadapan orang lain."
Ya, kerendahan hati seolah menjadi "barang langka".
Ada sebuah pepatah bijak yang kiranya bisa menjadi acuan bagaimana kita bisa membina hubungan baik dengan orang lain: Aku pergi keluar mencari sahabat, tak kutemukan satu pun. Aku pergi keluar untuk menjadi sahabat, kutemukan sahabat di mana-mana. Ya, cara mencari sahabat adalah dengan menjadi sahabat terlebih dahulu bagi orang lain. Belajarlah menghargai orang lain dan memahami sudut pandangnya. Buatlah orang lain merasa nyaman ketika berada dekat kita.
Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan belajar mendengarkan. Mendengarkan tidak sama dengan mendengar. Mendengar hanya membutuhkan telinga tetapi mendengarkan membutuhkan telinga, hati dan pikiran. Dale Carnegie bahkan menegaskan, "Anda bisa memiliki lebih banyak teman dalam waktu 2 minggu dengan menjadi
pendengar yang baik daripada 2 tahun dengan berusaha membuat orang lain tertarik kepada Anda." Itulah sebabnya Frank Tyger menyatakan kalau persahabatan sejati terdiri dari telinga yang mau mendengarkan, hati yang mau memahami dan tangan yang siap menolong. Terkadang saya berpikir, kalau dalam hidup ini kita mau belajar untuk saling mendengarkan rasanya jumlah konflik bisa kita minimalisir.
Hal yang juga penting dalam membangun sebuah persahabatan adalah ketulusan. Berbuat baiklah kepada orang lain semata-mata karena ia adalah manusia. Bukan karena kita mengharapkan sesuatu darinya. Ketulusan memang sulit dibuktikan. Ia biasanya hanya akan terlihat seiring perjalanan waktu. Bahkan kerap terbukti ketika yang bersangkutan telah tiada.
Ketulusan memang lebih mudah diucapkan dan dituliskan daripada dipraktekkan sebab ia berasal dari lubuk hati yang paling dalam, yang hanya memberi dan tak pernah berharap akan mendapatkan balasan. Sesungguhnya, dalam sebuah hubungan hanya ada 2 aktivitas utama: mengambil atau memberi ( take or give). Kalau kita senantiasa memberi –apalagi dengan penuh ketulusan- cepat atau lambat kita akan menerima balasannya meski kita sendiri barangkali tidak pernah mengharapkannya. Itu hukum mutlak yang sulit dibantah!
Pemberian yang saya maksudkan di sini tidak hanya berupa materi. Kita bisa memberi waktu, perhatian bahkan senyuman kepada orang lain. Seorang sahabat malah berujar kalau senyuman adalah lengkungan kecil yang bisa meluruskan banyak hal. Senyuman bisa seketika mencairkan hubungan yang beku. Lagipula untuk tersenyum kita hanya memerlukan 14 otot dibandingkan untuk cemberut yang membutuhkan 72 otot.
Jika ketulusan masih sulit untuk dipraktekkan, coba hayati nasihat dari seorang Mahaguru Kebenaran, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Kalau kita ingin orang berlaku jujur terhadap kita, hendaklah kita yang mulai berlaku jujur terhadap mereka.
Selanjutnya, belajarlah menerima perbedaan yang ada. Jangan memaksakan orang lain menjadi seperti kita. Ingatlah bahwa setiap manusia adalah unik. Dan, seperti kata Henry Ford, "Sahabat terbaik saya adalah orang yang dapat membuat saya menjadi yang terbaik". Bukan menjadi seperti dirinya!
Richard Exley pernah menulis sebuah syair indah mengenai persahabatan. "Sahabat sejati adalah orang yang mendengar dan memahami saat Anda membagikan perasaan Anda yang terdalam. Dia mendukung pada saat Anda berjuang; mengoreksi dengan lembut dan penuh
kasih pada saat Anda berbuat salah; serta mengampuni pada saat Anda gagal. Seorang sahabat sejati mendorong Anda bertumbuh menuju potensi maksimal Anda. Dan yang paling mencengangkan, dia merayakan keberhasilan Anda seperti keberhasilannya sendiri," kata Richard.
Demi memiliki teman yang banyak, sempat saya berprinsip bahwa saya HARUS DAPAT berteman dengan siapapun juga. Sehingga kadang saya harus "memaksa" diri agar orang merasa nyaman untuk berteman dengan saya, padahal saya sendiri merasa sebaliknya.
Dengan berjalannya waktu, saya belajar bahwa mencari teman seperti juga mencari suami adalah "jodoh2an". Tali silaturahmi tetap saya ulurkan, tetapi tentu saja saya tidak bisa memaksa semua orang untuk merasa nyaman dengan saya dan sebaliknya, diri saya sendiripun tidak bisa dipaksakan untuk merasa nyaman dengan semua orang.
Artikel di bawah ini saya ambil dari milis yang saya ikuti, mengingatkan saya bahwa untuk mendapatkan teman, kita harus belajar menjadikan diri kita terlebih dahulu teman bagi orang lain.
..........Meski pun hampir semua dari kita menyadari bahwa kita perlu orang lain toh tetap saja terkadang kita bertingkah sebaliknya. Tampaknya benar bahwa setiap manusia cenderung egois, lebih tertarik kepada dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Setiap orang ingin merasa dirinya penting, berharga dan punya nilai. Inilah yang membuat kita
terkadang susah membina sebuah persahabatan. Tidak berlebihan kiranya kalau mentor saya, Pak Andrie Wongso pernah berpesan, "Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah merendah di hadapan orang lain."
Ya, kerendahan hati seolah menjadi "barang langka".
Ada sebuah pepatah bijak yang kiranya bisa menjadi acuan bagaimana kita bisa membina hubungan baik dengan orang lain: Aku pergi keluar mencari sahabat, tak kutemukan satu pun. Aku pergi keluar untuk menjadi sahabat, kutemukan sahabat di mana-mana. Ya, cara mencari sahabat adalah dengan menjadi sahabat terlebih dahulu bagi orang lain. Belajarlah menghargai orang lain dan memahami sudut pandangnya. Buatlah orang lain merasa nyaman ketika berada dekat kita.
Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan belajar mendengarkan. Mendengarkan tidak sama dengan mendengar. Mendengar hanya membutuhkan telinga tetapi mendengarkan membutuhkan telinga, hati dan pikiran. Dale Carnegie bahkan menegaskan, "Anda bisa memiliki lebih banyak teman dalam waktu 2 minggu dengan menjadi
pendengar yang baik daripada 2 tahun dengan berusaha membuat orang lain tertarik kepada Anda." Itulah sebabnya Frank Tyger menyatakan kalau persahabatan sejati terdiri dari telinga yang mau mendengarkan, hati yang mau memahami dan tangan yang siap menolong. Terkadang saya berpikir, kalau dalam hidup ini kita mau belajar untuk saling mendengarkan rasanya jumlah konflik bisa kita minimalisir.
Hal yang juga penting dalam membangun sebuah persahabatan adalah ketulusan. Berbuat baiklah kepada orang lain semata-mata karena ia adalah manusia. Bukan karena kita mengharapkan sesuatu darinya. Ketulusan memang sulit dibuktikan. Ia biasanya hanya akan terlihat seiring perjalanan waktu. Bahkan kerap terbukti ketika yang bersangkutan telah tiada.
Ketulusan memang lebih mudah diucapkan dan dituliskan daripada dipraktekkan sebab ia berasal dari lubuk hati yang paling dalam, yang hanya memberi dan tak pernah berharap akan mendapatkan balasan. Sesungguhnya, dalam sebuah hubungan hanya ada 2 aktivitas utama: mengambil atau memberi ( take or give). Kalau kita senantiasa memberi –apalagi dengan penuh ketulusan- cepat atau lambat kita akan menerima balasannya meski kita sendiri barangkali tidak pernah mengharapkannya. Itu hukum mutlak yang sulit dibantah!
Pemberian yang saya maksudkan di sini tidak hanya berupa materi. Kita bisa memberi waktu, perhatian bahkan senyuman kepada orang lain. Seorang sahabat malah berujar kalau senyuman adalah lengkungan kecil yang bisa meluruskan banyak hal. Senyuman bisa seketika mencairkan hubungan yang beku. Lagipula untuk tersenyum kita hanya memerlukan 14 otot dibandingkan untuk cemberut yang membutuhkan 72 otot.
Jika ketulusan masih sulit untuk dipraktekkan, coba hayati nasihat dari seorang Mahaguru Kebenaran, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Kalau kita ingin orang berlaku jujur terhadap kita, hendaklah kita yang mulai berlaku jujur terhadap mereka.
Selanjutnya, belajarlah menerima perbedaan yang ada. Jangan memaksakan orang lain menjadi seperti kita. Ingatlah bahwa setiap manusia adalah unik. Dan, seperti kata Henry Ford, "Sahabat terbaik saya adalah orang yang dapat membuat saya menjadi yang terbaik". Bukan menjadi seperti dirinya!
Richard Exley pernah menulis sebuah syair indah mengenai persahabatan. "Sahabat sejati adalah orang yang mendengar dan memahami saat Anda membagikan perasaan Anda yang terdalam. Dia mendukung pada saat Anda berjuang; mengoreksi dengan lembut dan penuh
kasih pada saat Anda berbuat salah; serta mengampuni pada saat Anda gagal. Seorang sahabat sejati mendorong Anda bertumbuh menuju potensi maksimal Anda. Dan yang paling mencengangkan, dia merayakan keberhasilan Anda seperti keberhasilannya sendiri," kata Richard.
Sahabat
Pentingkah arti sahabat?
Pada setiap kehidupan seseorang, pasti akan membutuhkan teman yang bisa berbagi disaat susah maupun senang. Sahabat memang memiliki peran yang bisa membuat hidup menjadi lebih berwarna. Tetapi kehadiran sahabat bukanlah untuk menggantikan posisi pasangan atau kekasih anda.
Saat anda memiliki teman yang baik, bukan hadiah atau bingkisan atau kado yang mereka inginkan. Tetapi perhatian dan kesabaran yang mereka butuhkan. Terkadang sahabat juga butuh didengarkan, baik itu senang maupun dalam duka. Jadi apabila anda memiliki sahabat, maka persiapkan waktu dan kesabaran yang cukup untuk mendengarkan segala masalah serta keluh kesah yang mereka rasakan.
Sahabat akan membantu memecahkan permasalahan yang sedang anda hadapi. Atau mungkin hanya sekedar membicarakan masalah pekerjaan atau kehidupan yang terjadi di sekitar anda. Begitu pula dengan sang sahabat, mereka juga ingin anda melakukan hal yang sama. Membagi cerita-cerita yang lucu juga bisa membuat kedekatan anda dengan sang sahabat.
Variasi ataupun warna-warni kehidupan bisa diberikan oleh sahabat kepada anda. Menghabiskan waktu bersama sahabat akan merelaksasikan kepenatan anda setelah melakukan aktivitas kantor yang padat setiap hari. Mungkin anda bisa makan malam bersama, window shopping akan menciptakan kedekatan yang lebih menyenangkan.
Berikanlah sedikit kejutan dan perhatian kepada sahabat agar lebih dekat. Meskipun anda berada jauh dari sahabat, bukan berarti anda melupakannya kan? Anda tetap bisa berkomunikasi lewat internet, telpon ataupun sms. Tapi sebaiknya anda jangan sampai lupakan sang kekasih karena bisa-bisa dia cemburu lagi.
Pada setiap kehidupan seseorang, pasti akan membutuhkan teman yang bisa berbagi disaat susah maupun senang. Sahabat memang memiliki peran yang bisa membuat hidup menjadi lebih berwarna. Tetapi kehadiran sahabat bukanlah untuk menggantikan posisi pasangan atau kekasih anda.
Saat anda memiliki teman yang baik, bukan hadiah atau bingkisan atau kado yang mereka inginkan. Tetapi perhatian dan kesabaran yang mereka butuhkan. Terkadang sahabat juga butuh didengarkan, baik itu senang maupun dalam duka. Jadi apabila anda memiliki sahabat, maka persiapkan waktu dan kesabaran yang cukup untuk mendengarkan segala masalah serta keluh kesah yang mereka rasakan.
Sahabat akan membantu memecahkan permasalahan yang sedang anda hadapi. Atau mungkin hanya sekedar membicarakan masalah pekerjaan atau kehidupan yang terjadi di sekitar anda. Begitu pula dengan sang sahabat, mereka juga ingin anda melakukan hal yang sama. Membagi cerita-cerita yang lucu juga bisa membuat kedekatan anda dengan sang sahabat.
Variasi ataupun warna-warni kehidupan bisa diberikan oleh sahabat kepada anda. Menghabiskan waktu bersama sahabat akan merelaksasikan kepenatan anda setelah melakukan aktivitas kantor yang padat setiap hari. Mungkin anda bisa makan malam bersama, window shopping akan menciptakan kedekatan yang lebih menyenangkan.
Berikanlah sedikit kejutan dan perhatian kepada sahabat agar lebih dekat. Meskipun anda berada jauh dari sahabat, bukan berarti anda melupakannya kan? Anda tetap bisa berkomunikasi lewat internet, telpon ataupun sms. Tapi sebaiknya anda jangan sampai lupakan sang kekasih karena bisa-bisa dia cemburu lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)






