Rabu, 04 Januari 2012

Teman

Mungkin saya adalah seseorang yang sangat "bergantung" dengan teman, dalam arti saya akan merasa sedih bila tidak memiliki teman atau hanya sedikit memiliki teman. Sebaliknya saya akan merasa bahagia bila dimanapun saya berada saya senantiasa dapat menemukan teman2 saya.
Demi memiliki teman yang banyak, sempat saya  berprinsip bahwa saya HARUS DAPAT berteman dengan siapapun juga. Sehingga kadang saya harus "memaksa" diri agar orang merasa nyaman untuk berteman dengan saya, padahal saya sendiri merasa sebaliknya.
Dengan berjalannya waktu, saya belajar bahwa mencari teman seperti juga mencari suami adalah "jodoh2an". Tali silaturahmi tetap saya ulurkan, tetapi tentu saja saya tidak bisa memaksa semua orang untuk merasa nyaman dengan saya dan sebaliknya, diri saya sendiripun tidak bisa dipaksakan untuk merasa nyaman dengan semua orang.
Artikel di bawah ini saya ambil dari milis yang saya ikuti, mengingatkan saya bahwa untuk mendapatkan teman, kita harus belajar menjadikan diri kita terlebih dahulu teman bagi orang lain.
..........Meski pun hampir semua dari kita menyadari bahwa kita perlu orang lain toh tetap saja terkadang kita bertingkah sebaliknya. Tampaknya benar bahwa setiap manusia cenderung egois, lebih tertarik kepada dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Setiap orang ingin merasa dirinya penting, berharga dan punya nilai. Inilah yang membuat kita
terkadang susah membina sebuah persahabatan. Tidak berlebihan kiranya kalau mentor saya, Pak Andrie Wongso pernah berpesan, "Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah merendah di hadapan orang lain."
Ya, kerendahan hati seolah menjadi "barang langka".

Ada sebuah pepatah bijak yang kiranya bisa menjadi acuan bagaimana kita bisa membina hubungan baik dengan orang lain: Aku pergi keluar mencari sahabat, tak kutemukan satu pun. Aku pergi keluar untuk menjadi sahabat, kutemukan sahabat di mana-mana. Ya, cara mencari sahabat adalah dengan menjadi sahabat terlebih dahulu bagi orang lain. Belajarlah menghargai orang lain dan memahami sudut pandangnya. Buatlah orang lain merasa nyaman ketika berada dekat kita.

Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan belajar mendengarkan. Mendengarkan tidak sama dengan mendengar. Mendengar hanya membutuhkan telinga tetapi mendengarkan membutuhkan telinga, hati dan pikiran. Dale Carnegie bahkan menegaskan, "Anda bisa memiliki lebih banyak teman dalam waktu 2 minggu dengan menjadi
pendengar yang baik daripada 2 tahun dengan berusaha membuat orang lain tertarik kepada Anda." Itulah sebabnya Frank Tyger menyatakan kalau persahabatan sejati terdiri dari telinga yang mau mendengarkan, hati yang mau memahami dan tangan yang siap menolong. Terkadang saya berpikir, kalau dalam hidup ini kita mau belajar untuk saling mendengarkan rasanya jumlah konflik bisa kita minimalisir.

Hal yang juga penting dalam membangun sebuah persahabatan adalah ketulusan. Berbuat baiklah kepada orang lain semata-mata karena ia adalah manusia. Bukan karena kita mengharapkan sesuatu darinya. Ketulusan memang sulit dibuktikan. Ia biasanya hanya akan terlihat seiring perjalanan waktu. Bahkan kerap terbukti ketika yang bersangkutan telah tiada.

Ketulusan memang lebih mudah diucapkan dan dituliskan daripada dipraktekkan sebab ia berasal dari lubuk hati yang paling dalam, yang hanya memberi dan tak pernah berharap akan mendapatkan balasan. Sesungguhnya, dalam sebuah hubungan hanya ada 2 aktivitas utama: mengambil atau memberi ( take or give). Kalau kita senantiasa memberi –apalagi dengan penuh ketulusan- cepat atau lambat kita akan menerima balasannya meski kita sendiri barangkali tidak pernah mengharapkannya. Itu hukum mutlak yang sulit dibantah!

Pemberian yang saya maksudkan di sini tidak hanya berupa materi. Kita bisa memberi waktu, perhatian bahkan senyuman kepada orang lain. Seorang sahabat malah berujar kalau senyuman adalah lengkungan kecil yang bisa meluruskan banyak hal. Senyuman bisa seketika mencairkan hubungan yang beku. Lagipula untuk tersenyum kita hanya memerlukan 14 otot dibandingkan untuk cemberut yang membutuhkan 72 otot.

Jika ketulusan masih sulit untuk dipraktekkan, coba hayati nasihat dari seorang Mahaguru Kebenaran, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Kalau kita ingin orang berlaku jujur terhadap kita, hendaklah kita yang mulai berlaku jujur terhadap mereka.

Selanjutnya, belajarlah menerima perbedaan yang ada. Jangan memaksakan orang lain menjadi seperti kita. Ingatlah bahwa setiap manusia adalah unik. Dan, seperti kata Henry Ford, "Sahabat terbaik saya adalah orang yang dapat membuat saya menjadi yang terbaik". Bukan menjadi seperti dirinya!

Richard Exley pernah menulis sebuah syair indah mengenai persahabatan. "Sahabat sejati adalah orang yang mendengar dan memahami saat Anda membagikan perasaan Anda yang terdalam. Dia mendukung pada saat Anda berjuang; mengoreksi dengan lembut dan penuh
kasih pada saat Anda berbuat salah; serta mengampuni pada saat Anda gagal. Seorang sahabat sejati mendorong Anda bertumbuh menuju potensi maksimal Anda. Dan yang paling mencengangkan, dia merayakan keberhasilan Anda seperti keberhasilannya sendiri," kata Richa
rd.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar